Saatnya ujian. Ketiga mahasiswa tadi mempersiapkan dengan hal yang berbeda.
Pada ujian yang pertama, mata kuliah yang agak-agak gampang, standarlah. Reni mempersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Semua catatan kuliah tentang mata kuliah tersebut di kumpulinnya, textbook maupun slide presentasi dari dosen tersebut dikumpulinnya. Demi ujian itu, Reni belajar seminggu sebelumnya, nyicil tiap malam untuk mereview kembali isi mata kuliah tersebut, hingga ngerti bener.
Rino, hampir-hampir mirip dengan Reni. Jauh-jauh hari sebelumnya sudah di persiapkannya, tapi doi belum sempat belajar, karena kesibukan organisasi kampus. Karena menganggap mata kuliah itu gampang, dia pikir, belajar 2 malam saja cukup.
Sedangkan Riki, sama sekali nggak tahu jawdal ujian mata kuliah tersebut. Baru ngeh, kalau esok hari adalah ujian mata kuliah itu, soalnya dalam mata kuliah tersebut dia hanya hadir 40%, 30% titip absen, dan 30% bolos. Sejak pertama masuk kuliah itu, dia menganalisis, bahwa mata kuliah ini adalah salah satu mata kuliah termudah dari seluruh mata kuliah semester, dan dia menganggapnya nggak terlalu urgent di bidangnya. Setelah tahu besok ujian, dia mencari catatan kuliah terlengkap yang dimiliki temennya. Dipinjemlah catatan Reni. Kemudian dia nongkrong di himpunan untuk mencari soal-soal tahun kemarin, dan mengcopi softcopy slide-slide yang di berikan dosen pas mengajar. Dengan 3 modal itu dia merasa sudah cukup untuk belajar dan besok ujian.
Akhirnya mereka ujian esok harinya jam 9. Reni dengan persiapan matang selama seminggu dan tadi malem tidur jam 9 biar besok seger, duduk di barisan paling depan dengan mengerjakan penuh keyakinan.
Rino yang ternyata hanya belajar semalem (melem sebelumnya yang ditarget untuk belajar, malah nemenin pacarnya yang minta diajak shopping dan nonton), soalnya nggak punya waktu,belajar selama 7 jam, dari jam 7 malem sampe 2 pagi. Matanya merah dan sesekali menguap karena masih ngantuk duduk di barisan tengah.
Sedangkan Riki yang semalem ternyata hanya belajar selama 2 jam, hanya mereview ulang kuliah, megurutkannya, membaca catatan kuliah dan menganalisis soal2 ujian tahun-tahun sebelumnya, dan tidur jam 9 malem, karena tergoda dengan obralan tetangga kosannya yang lagi ada tamu dan ikut nimburng. Paginya habis subuh, dia mengerjakan soal-soal tahun lalu, menganalisis, dan mengerjakan ulang sampe jam 8, mandi dan berangkat. Dengan agak-agak nggak percaya diri, dia duduk di belakang.
Hasil ujian akan diumumkan 1 minggu lagi, sedangkan ujian kedua dilaksanakan 3 hari lagi dengan mata kuliah paling berat dan susah.
3 Mahasiswa (Part 2) - Ujian 1
ΞTuesday, May 19, 2009|→
0
komentar|
∇
Categories :
Cerita
by
racoen
saat
8:18 AM
3 Mahasiswa (Part 1)
ΞSunday, May 3, 2009|→
0
komentar|
∇
Categories :
Cerita
Ada cerita tentang 3 mahasiswa.
Mahasiswa pertama, sebut saja namanya Reni. Dia tinggal di daerah pinggirang kota. Setiap kuliah, dia naik bus/angkot 2 jam sebelum waktu kuliah. Dia harus jalan dulu 500 meter ke depan gang untuk nunggu angkot ke terminal. Angkot yang hampir selalu kosoong dan harus ngetem berpuluh-puluh menit untuk mengantar penumpang ke terminal. Habis dari terminal naik bus, menuju ke terminal kota. Habis itu pindah angkot lagi menuju kampusnya. Total 2 jam ketika perjalanan di lakukan pada pagi hari, karena jarak jauh, angkot yang ngetem, dan macet. Bayangkan kalau Reni kuliah jam 7 pagi, maka dia harus jam 5 berangkat dari rumahnya. Dan hebatnya dia sama sekali nggak pernah telat sekalipun.
Mahasiswa kedua, namanya Rino, dia bukan penduduk aseli kota tempat dia kuliah. Dia ngekost di dekat kampusnya. Agak jauh, karena kalau dekat, harga kosannya mahal. Setiap kuliah dia selalu jalan 15 menit, walaupun bisa juga naik angkot, tapi sayang uangnya, mending sekalian olahraga.
Mahasiswa ketiga namanya Riki, dia juga ngekos di dekat kampus. Tapi dia punya motor, dan selalu naik motor ketika berangkat ke kampus. Hanya 5 menit saja perjalanan dari kosnya ke kampus. Makanya ketika kuliah jam 7 pagi, dia bangun untuk kedua kalinya (bangun pertama untuk subuhan)jam 06.45, cuci muka, gosok gigi, ganti pakaian, yang dapat ia lakukan hanya dalam tempo 10 menit, habis itu pergi ke kampus 5 menit, jalan ke ruangan kelas 5 menit, makanya di selalu telat 10-15 menit datang di ruang kelas kalau kuliah pagi hari
Reni, Rino dan Riki akhirnya berada dalam satu kelas pagi itu. Reni duduk di depan, mendengarkan sang dosen berceloteh, dan kadang menulis-nulis sesuatu di bukunya sambil manggut-manggut. Riki, duduk di tengah, kadang mendengarkan, kadang ngobrol dengan teman sebelahnya sambil memegangi pulpen. Sedangkan Riki duduk di barisan paling belakang, di bangunin teman sebelahnya karena kertas absen sampai kepadanya. Dengan mata merah Riki bangun dan pinjem pulpen temannya untuk absensi. Kemudian dia lanjutkan tidurnya, karena masih ngantuk, semaleman maen football manager. Temen sebelahnya hanya geleng-geleng kepala saja, masih mending dateng, biasanya titip absen doang, ato habis absen, langsung ngacir, balik ke kosan atau makan, batinnya.
sekian dulu ah, capek, nanti bersambung yah.
by
racoen
saat
4:06 AM
Sayapku
ΞSaturday, May 31, 2008|→
0
komentar|
∇
Categories :
Cerita
“Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam” jawabku
Dahiku berkerut. Suara Dila begitu mendesah dan bernada sedih
“Mmm...”Aku bergumam memancing dia bicara, soalnya setelah 5 detik ini dia belum memulai pembicaraan.
“Ma...bisa ke rumahku nggak?” katanya lirih.
Jarang sekali, bahkan gak pernah Dila dengan tiba-tiba menyuruhku untuk kerumahnya. Aneh, batinku.
“Ke Rumahmu?”
“Iya”
“Sekarang?” tanyaku bingung, masih berfikir ada apa sebenarnya
“E...kalo bisa sih?”
Aku lihat jam di dinding kosanku. Aku ada janji sama temenku untuk pergi ke BEC setengah jam lagi.
“Ya udah. Tunggu ya. Eh, emangnya ada apa sih?” tanyaku mencoba mencairkan pembicaraan yang menurutku kaku ini.
“Nggak enak kalo diomongin lewat telepon...”
“Nyante aja, i’ll be there soon”
“Makasih ya Ma...Bye...”
Tut..tut..tut...
---****---
Di teras rumah Dila aku menunggu, mencoba mengira-ngira apa yang akan dikatakan Dila. Sejenak dia datang membawa piring dan dua gelas jus jeruk dan kemudian menaruh martabak yang tadi aku bawa ke piring.
“Pada kemana bokap-nyokap?”
“Pergi semua. Sendirian aku sejak pagi tadi”
“Nggak kuliah?”
Dila menggelengkan kepalanya. Aku mengambil gelas dan meminum jus jeruk di meja, menunggu Dila memulai percakapan.
“Ma, ayuk kita keluar ya...”
Kupandangi wajah Dila, mecoba menerka apa yang ada di pikirannya. Aneh betul, sejak berteman akrab selama 1 tahun baru kali ini Dila mengajak keluar. Hanya berdua lagi.
“Kemana?” kulirik jam tanganku, masih terpikir janji ama temenku di BEC nanti
“Ke kebun teh di atas yuk” katanya
Haaahhh, ke kebun teh, sore-sore begini, emangnya mau ngapain.
“Ayuklah, bentar aja...” dia tersenyum manja, ah, mana bisa aku menolaknya. Aku pun mengangguk.
---****---
Aku parkirkan motorku di dekat gubuk di pinggir jalan yang jualan jagung bakar. Dila lagi asyik menikmati udara segar dengan melebarkan tangannya, memejamkan matanya dan menarik nafasnya dalam-dalam. Rambutnya yang terurai panjang dibuai angin gunung. Sweater merah jambu yang dikenakannya membuatnya tampak manis sekali. Dia kemudian berjalan ke arah kebun teh di pinggir jalan, naik gundukan tanah dan berjalan naik ke bukit. Di tengah-tengah kebun teh di bukit itu dia menoleh kepadaku.
“Maaaa!!!....Ayuk kesini naik ke atas!”
Aku tersenyum kepadanya lalu memandang sepatuku yang baru tadi aku cuci tadi pagi, sepertinya sepatuku hari ini kurang beruntung.
Di puncak bukit, ada sepetak tanah kecil kosong yang aku rasa ini sebagai tempat para pemetik teh untuk beristirahat. Kami duduk di sana, memandangi hamparan tanaman teh yang seperti karpet hijau. Angin dingin ini membuatku damai.
Setelah 1 menit menikmati suasana dan pemandangan yang begitu indah, Dila berbicara.
“Ma..”, ujarnya masih tetap memandang ke arah matahari yang mulai tenggelam, “Bagaimana kalau hari esok tidak datang?”
Aku pandangi Dila. Aneh betul dia hari ini. Aku nggak segera menjawabnya, menyusun kata-kata yang tepat. Perasaan aku pernah dah mendengar pertanyaan seperti ini.
“Kalau esok nggak ada aku akan melakukan hal yang terbaik hari ini, minta maaf kepada semua orang yang pernah aku sakiti dan membahagiakan orang yang aku sayangi.”
“Apakah semua itu bisa kamu lakukan dalam satu hari?”
“Mmmm...semoga saja bisa”, jawabku serius, tapi Dila malah ketawa. Aku diam saja, menatap kepulan asap jagung bakar dari arah gubug tadi.
“Ma...”, dia menarik ujung lengan kaosku. Dia memandangiku dengan penuh perasaan, “Aku minta maaf yah…”
Bergetar hatiku dan berhenti nafasku. Bukan karena ucapan yang baru dia katakan, that’s because the way she look deeply at me. Dan kita tetap berpandangan mata lama, tanpa suatu kata pun terucap.
Tuhan, terima kasih, aku yakin telah menemukan belahan jiwaku, dan benar sedari dulu aku sudah merasakannya.
To really love a woman
To understand her - you gotta know her deep inside
Hear every thought - see every dream
N' give her wings - when she wants to fly
Then when you find yourself lyin' helpless in her arms
Ya know ya really love a woman
(Bryan Adams, Have You Really Love a Woman)
(sudah lama aku tidak menulis sebuah cerpen, dan cerpen diatas aku buat hampir satu tahunan, nggak kelar-kelar, padahal pendek gini. Bayanganku sih, sewaktu menulis pertama kali, ceritanya bakal lebih complicated dan lama, tapi entah kenapa aku segera ingin mengakhirinya, tapi mungkin cerita ini akan bersambung, tapi entahlah,,,)
by
racoen
saat
11:43 PM
Rindu Maulid
ΞSunday, March 23, 2008|→ 0 komentar|
Hatinya merasa nggak nyaman sekali dan gundah. Dia mengingat-ingat sewaktu masih kecil, dalam memperingati maulud nabi, dia selalu ikut membaca kitab al-Barzanji yang diadakan di surau dekat rumahnya di kampung. Betapa senangnya dia dulu membaca kitab al-Barzanji, nyanyian syair indah dan puji-pujian yang dihaturkan kepada junjungan Nabi Besar, yang diadakan rutin selama 12 hari dari selesai maghrib sampai Isya'.
Dan kini dia sekarang duduk di depan rumah kontrakan merasa gelisah. Merasa bersalah mengapa dia sampai lupa dan ingin segera pulang kampung menikmati indahnya memperingati hari kelahiran Nabi di kampungnya. Ya, sekarang dia tinggal di kota, di perantauan, sibuk mencari uang hingga melupakan semuanya. Memang sih, banyak kontradiksi mengenai peringatan hari kelahiran nabi ini, dan dia sadar di kota susah untuk menemukan masjid yang membaca kitab al-Barzanji, paling di pesantren-pesantren pinggiran kota. Haahhh!!!
Sebenarnya dia pengen membaca sholawat nabi sebanyak-banyaknya, dan melalui membaca kitab tipis itu, dia bisa melakukannya. Dia juga rindu akan nyanyi puji-pujian yang dilantunkan, tapi dia malah stress, karena nggak mampu mengingatnya barang satu baris pun. Apa yang harus diperbuatnya untuk menyatakan rasa cintanya kepada Nabi???
Dia kembali teringat akan pesan ibunya, "Nak, ketika sedang susah, banyaklah bershalawat", nah, hampir selama di kota ini dia nggak pernah bersholawat, paling saat membaca takhiyat akhir. Dia teringat akan sebuah shalawat, yaitu sahalawat nariyah. Dia mencoba membacanya, tapi baru "Allahumma sholli sholatan, kamilatan wa salim salaman, tamman 'ala sayyidina muhammadin....", dia sudah sangat lupa kelanjutannya. Ada apa ini. Apa setan telah merasukinya begitu dalam sehingga nggak mampu untuk mengeluarkan sebuah shalawat. Stress dia dan gelisah.
Dia menghela nafas dan menghabiskan kopinya, mencoba menenangkan dirinya. Dia masuk rumah dan duduk di sofa ruang tamu. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah tape-radio kesayangan yang di belinya pas jaman SMA dengan kerinagtnya sendiri.
"Alhamdulillah, ya Allah!!", serunya.
Kemudian dia bangkit menuju tape sony yang sudah cukup usang karena tidak pernah disetel, lalu mencari tumpukan kaset yang berada di rak dibawahnya. Dia kemudian tersenyum mengambil sebuah kaset dengan cover bertuliskan Cinta Rasul-Haddad Alwi. Kemudian di stelnya dengan cuara agak kencang. Dia kemudian duduk lagi di sofa dengan khusu' mendengar dan ikut menyanyi lagu-lagu cinta kepada rasul. Hatinya tiba-tiba tenang dan nyaman.
"Ya, Allah, ampuni hambamu ini yang telah lupa kepadamu, telah di sibukkan akan dunia ini. Engkau adalah Maha Pengampun dan Pengasih" dalam hati Jadmiko berkata.
by
racoen
saat
9:13 PM
Sayap
ΞSunday, March 9, 2008|→
0
komentar|
∇
Categories :
Cerita
Kuambil HP Motorola yang berdering di atas meja kecil, disamping komputerku yang kini dihadapanku. Kulihat tulisan yang berkedip-kedip di layar, “DILA CALLING...”. Sekejap aku berpikir, tapi langsung aku terima teleponnya,
“Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam” jawabku
Dahiku berkerut. Suara Dila begitu mendesah dan bernada sedih
“Mmm...”Aku bergumam memancing dia bicara, soalnya setelah 5 detik ini dia belum memulai pembicaraan.
“Ma...bisa ke rumahku nggak?” katanya lirih.
Jarang sekali, bahkan gak pernah Dila dengan tiba-tiba menyuruhku untuk kerumahnya. Aneh, batinku.
“Ke Rumahmu?”
“Iya”
“Sekarang?” tanyaku bingung, masih berfikir ada apa sebenarnya
“E...kalo bisa sih?”
Aku lihat jam di dinding kosanku. Aku ada janji sama temenku untuk pergi ke BEC setengah jam lagi.
“Ya udah. Tunggu ya. Eh, emangnya ada apa sih?” tanyaku mencoba mencairkan pembicaraan yang menurutku kaku ini.
“Nggak enak kalo diomongin lewat telepon...”
“Nyante aja, i’ll be there soon”
“Makasih ya Ma...Bye...”
Tut..tut..tut...
---****---
Di teras rumah Dila aku menunggu, mencoba mengira-ngira apa yang akan dikatakan Dila. Sejenak dia datang membawa piring dan dua gelas jus jeruk dan kemudian menaruh martabak yang tadi aku bawa ke piring.
“Pada kemana bokap-nyokap?”
“Pergi semua. Sendirian aku sejak pagi tadi”
“Nggak kuliah?”
Dila menggelengkan kepalanya. Aku mengambil gelas dan meminum jus jeruk di meja, menunggu Dila memulai percakapan.
“Ma, ayuk kita keluar ya...”
Kupandangi wajah Dila, mecoba menerka apa yang ada di pikirannya. Aneh betul, sejak berteman akrab selama 1 tahun baru kali ini Dila mengajak keluar. Hanya berdua lagi.
“Kemana?” kulirik jam tanganku, masih terpikir janji ama temenku di BEC nanti
“Ke kebun teh di atas yuk” katanya
Haaahhh, ke kebun teh, sore-sore begini, emangnya mau ngapain.
“Ayuklah, bentar aja...” dia tersenyum manja, ah, mana bisa aku menolaknya. Aku pun mengangguk.
---****---
Aku parkirkan motorku di dekat gubuk di pinggir jalan yang jualan jagung bakar. Dila lagi asyik menikmati udara segar dengan melebarkan tangannya, memejamkan matanya dan menarik nafasnya dalam-dalam. Rambutnya yang terurai panjang dibuai angin gunung. Sweater merah jambu yang dikenakannya membuatnya tampak manis sekali. Dia kemudian berjalan ke arah kebun teh di pinggir jalan, naik gundukan tanah dan berjalan naik ke bukit. Di tengah-tengah kebun teh di bukit itu dia menoleh kepadaku.
“Maaaa!!!....Ayuk kesini naik ke atas!”
Aku tersenyum kepadanya lalu memandang sepatuku yang baru tadi aku cuci tadi pagi, sepertinya sepatuku hari ini kurang beruntung.
Di puncak bukit, ada sepetak tanah kecil kosong yang aku rasa ini sebagai tempat para pemetik teh untuk beristirahat. Kami duduk di sana, memandangi hamparan tanaman teh yang seperti karpet hijau. Angin dingin ini membuatku damai.
Setelah 1 menit menikmati suasana dan pemandangan yang begitu indah, Dila berbicara.
“Ma..”, ujarnya masih tetap memandang ke arah matahari yang mulai tenggelam, “Bagaimana kalau hari esok tidak datang?”
Aku pandangi Dila. Aneh betul dia hari ini. Aku nggak segera menjawabnya, menyusun kata-kata yang tepat. Perasaan aku pernah dah mendengar pertanyaan seperti ini.
“Kalau esok nggak ada aku akan melakukan hal yang terbaik hari ini, minta maaf kepada semua orang yang pernah aku sakiti dan membahagiakan orang yang aku sayangi.”
“Apakah semua itu bisa kamu lakukan dalam satu hari?”
“Mmmm...semoga saja bisa”, jawabku serius, tapi Dila malah ketawa. Aku diam saja, menatap kepulan asap jagung bakar dari arah gubug tadi.
“Ma...”, dia menarik ujung lengan kaosku. Dia memandangiku dengan penuh perasaan, “Aku minta maaf yah…”
Bergetar hatiku dan berhenti nafasku. Bukan karena ucapan yang baru dia katakan, that’s because the way she look deeply at me. Dan kita tetap berpandangan mata lama, tanpa suatu kata pun terucap.
Tuhan, terima kasih, aku yakin telah menemukan tulang rusukku.
To understand her - you gotta know her deep inside
Hear every thought - see every dream
N' give her wings - when she wants to fly
Then when you find yourself lyin' helpless in her arms
Ya know ya really love a woman
(sudah lama aku tidak menulis sebuah cerpen, dan cerpen diatas aku buat hampir satu tahunan, nggak kelar-kelar, padahal pendek gini. Bayanganku sih, sewaktu menulis pertama kali, ceritanya bakal lebih complicated dan lama, tapi entah kenapa aku segera ingin mengakhirinya, tapi mungkin cerita ini akan bersambung, tapi entahlah,,,)
by
racoen
saat
2:13 PM
PATAH
ΞTuesday, November 7, 2006|→
0
komentar|
∇
Categories :
Cerita
PATAH
Aku berjalan di tepi trotoar. Hujan yang udah lama turun membuat jalan becek dan membenamkan sandal jepitku. Mungkin aku disangka orang miring, karena malam yang dingin dengan hujan gerimis dan angin yang bertiup kencang aku berjalan sendirian dengan t-shirt yang tipis. Tapi aku nggak peduli. Aku mencoba mengingat kembali kejadian tadi sore, saat dia mengucapkan kata maaf. Waktu aku bilang bahwa aku suka dia. Tak percaya aku.. tapi demi melihat wajahnya yang serius aku percaya. Mulutku kaku.
Kupandangi langit berharap ada satu bintang yang akan kulihat. Tapi ternyata mendung menghalangi bintang yang akan menerangi jalanku yang kian kelam. Aku terbayang pada Stan, teman baikku yang tadi bertemu aku di luar masjid. Waktu itu pas hujan deras. Aku keluar dari masjid dengan langkah gontai. Dia sengaja menungguku di dalam starletnya. Dia keluar dari mobilnya saat melihatku berhujan hujan“Please, fren! Kamu jangan begini dong.”
Dia mengikuti langkahku yang entah kemana kakiku ini mencari tujuan. Tapi aku nggak ngejawab.
“Ayo, pulang. Kamu dari tadi belum pulang, kan. Nanti kamu sakit.”
Ternyata dia kasihan padaku.. tapi entah darimana dia mendapat kabar itu. Lalu dia memegang tanganku dan langkahku pun terhenti. Aku memandang wajahnya.
“Sorry, Stan”.
Aku kembali melangkahkan kakiku. Sedangkan Stan terdiam saja.
Hah. Aku menghela nafasku panjang panjang. Kulihat didepanku ada kios. Aku mampir untuk membeli rokok. Kukelurkan uang dari sakuku yang basah kuyup. Lalu aku menuju ke arah warung yang tutup karena hujan. Aku duduk dibangku. Kunyalakan rokokku. Aku jarang sekali ngrokok. Kalo dihitung hitung mungkin baru dua kali. Dan katanya rokok itu bisa menenangkan pikiran yang lagi kaco. Maka dari itu aku beli rokok. Hisapan pertama aku terbatuk-batuk. Tapi selanjutnya aku mulai terbiasa. Sambil menghisap kubayangkan kembali si dia. Saat pertama kali bertemu, saat aku kerumahnya, saat aku bercanda dengannya. Kenangan kenangan indah bersamanya membuat aku tersenyum. Wanita memang makhluk yang misterius dan sekaligus makhluk yang terkutuk. Mereka memberi harapan tapi ternyata hanya asa yang kosong. Rasanya aku pengen nangis saja kalo bisa.
Hujan masih membasahi tubuhku. Angin bertiup semakin kencang dan suara guntur terus bersahut-sahutan dan malam pun semakin kelam. Tak terasa sudah tiga batang rokok yang kuhabiskan membuat badanku lebih terasa hangat. Sekelilingku yang gelap dan sepi membuatku bosan. Aku bangkit untuk menyeberang jalan.
(Dari kejauhan ada mobil melaju cepat. Di dalamnya si sopir tenyata mabuk berat. Suara musik house membahana di mobil itu. Saat melewati jalan yang gelap tiba-tiba...
Ciiitttt. Mobil itu mengerem mendadak tetapi karena jalan yang licin dia merasa menabrak sesuatu. Sopir itu keluar dari mobilnya. Di depan mobilnya tergeletak seorang pemuda yang berlumuran darah. Di sebelah tangannya terdapat rokok yang masih menyala. Sopir itu kaget. Buru-buru ia masuk kembali kedalam mobil dan melarikan diri. Sedangkan pemuda tadi tergeletak tak berdaya. Darah yang keluar dari kepalanya terus hanyut dibawa air hujan. Gerimis yang tak kunjung reda membahasi seonggok tubuh yang terpatah-patah)
by
racoen
saat
6:37 PM